Kisah Israiliyat
Dalam kehidupan keseharian sering kita dengar kisah-kisah jaman dahulu, yang menceritakan tentang manusia jaman dahulu yang kebanyakan berasal dari jaman sebelum nabi Muhammad Saw. Dari cerita-cerita tersebut banyak menjelaskan kisah hikmah, perjuangan bahkan menjadi pegangan dalam beragama. Sebagai orang Islam tentunya harus dipahami kebenaran dari suatu kisah Israiliyat, sehingga tidak bercampur antara kisah dari para sahabat atau ulama-ulama Islam dengan kisah yang berasal dari israiliyat. Kisah Israiliyat banyak dijumpai dari berbagai kitab tafsir, hanya saja sebagaian ulama berbeda paham menyikapi kisah Israiliyat. Ada ulama yang membawakan kisah Israiliyat dengan membawakan sanadnya, namun ada juga yang tidak menyebutkan sanadnya. Kisah israiliyat adalah kisah yang berasal dari bani Israil, baik itu yang beragama yahudi maupun nasrani, namun secara umum berasal dari masyarakat kaum yahudi. Lalu dalam menyikapi kisah Israiliyat dalam Islam terbagi kepada tiga hal:
  1. Kisah yang diakui kebenarannya dalam Islam, kisah semacam ini boleh dibenarkan karena yang menjadi standarnya yaitu Al-Qur’an dan hadits. Misalnya kisah seorang pendeta yahudi yang mendatangi Nabi Saw yang berkata “ wahai Muhammad kami mendengar bahwa Allah menjadikan langit di satu jari dan makhluk di satu jari lainnya, dan Nabi Saw pun tertawa dengan menjawab dengan surat Az-Zumar:67.
  2. Kisah yang didustakan dalam Islam, kisah semacam ini statusnya batil dan wajib untuk ditinggalkan. Misalnya kisah mengenai nabi Isa as yang merupakan putra Allah
  3. Kisah yang tidak dibenarkan maupun didustakan dalam Islam, untuk kisah seperti ini disikapi dengan tawaquf (pertengahan), tidak boleh didustakan karena bisa saja kisahnya benar dan tidak boleh diyakini karena bisa jadi kisahnya salah. Misalnya, dari Abu Hurairah ra beliau pernah mengatakan “orang ahli kitab membacakan taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum Muslimin.
Menanggapi kisah israiliyat ini, kita diperbolehkan untuk menceritakannya tanpa ada tujuan untuk diimani, dibenarkan atau di dustakan. Karena secara umum kisah-kisah Israiliyat tidak memiliki banyyak manfaat penting bagi agama, hanya sebatas cerita atau dongeng. Yang walau pun diketahui tidak akan menambah amal.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.