Tingkatan-Tingkatan Orang Yang Shalat
Ibadah shalat adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh kapanpun dan dimanapun ia berada, baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Sedangkan bagi mereka yang masih anak-anak ibadah shalat dilakukan sebagai latihan ketika nanti ia sudah mendapat kewajiban ibadah shalat, karena dalam sebuah hadits rasul menerangkan untuk menyuruh anak kecil yang beru berumur tujuh tahun shalat, dan memukulnya (tanpa mencederai) jika umurnya sudah 10 tahun jika belum mau shalat. Saking pentingnya shalat ini, Allah memberikan rukshah (keringanan) dalam melaksanakannya, yaitu dengan jama dan qashar. Ketika seorang hamba shalat tentunya akan berbeda satu sama lain dalam kualitasnya, hal ini bergantung kepada ilmu yang dimilikinya. Seorang ulama termasyur Ibnul Qayyim Al-Jauziyah membagi tingkatan bagi orang yang melaksanakan shalat:
  1. Tingkatan orang yang zhalim kepada dirinya dan teledor. Yaitu yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu shalatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.
  2. Tingkatan yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang bersifat lahir. Tetapi tidak ada upayanya dalam melawan segala bisikan yang mengganggu shalatnya, sehingga shalatnya lalai jauh dari khusyu.
  3. Tingkatan yang menjaga batas-batas dan rukun-rukun sahlat dan ia pun berupaya untuk mengusir bisikan jahat dalam pikiran dan hatinya ketika shalat, sehingga dia terus-menerus berjuang melawan segala gangguan agar shalatnya menjadi khusyu. Maka, dia sedang berada di dalam shalat, sekaligus jihad.
  4. Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya. hatinya dirasuki oleh urusan shalat dan penyembahan kepada Allah.
  5. Orang yang melaksanakan shalat dengan sempurna. Hatinya tertuju kepada Allah, memandang dan memperhatikan-Nya dipenuhi rasa cinta kepada-Nya. Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Tuhannya telah diangkat. Jarak antara shalat semacam ini dengan shalat yang lainnya lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam shalatnya, dia sibuk dengan Tuhannya. Dia merasa tenteram lewat shalat.
Tentunya hal-hal di atas sering kita alami dalam shalat kita, maka sudah seharusnya kita shalat hanya bertujuan kepada Allah bukan yang lain.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.